Studi lapangan Sejarah Kebudayaan Islam yang diampu oleh Laili Mas Ulliyah Hasan, M.Pd bagi semester 3 dan Sejarah Pendidikan Islam yang diampu oleh Firdausi Nurharini, M.Pd. bagi semester 5, melakukan penutupan mata kuliah akhir dengan menjalankan kegiatan Studi Lapangan ke Masjid Muhammad Cheng Hoo di Jl. Gading No.2, Ketabang, Kec. Genteng, Kota SBY, Jawa Timur 60272. Masjid tersebut merupakan Masjid yang tercatat berdiri sebagai bangunan Masjid bergaya Tiongkok pertama di Indonesia dan dunia, sehingga termasuk peradaban kebudayaan dan pendidikan tertua islam dari suku Tiongkok. Menurut Haryono Ong selaku takmir Masjid Muhammad Cheng Hoo, bangunan Masjid ini berdiri pada 10 Maret 2022 dan baru diresmikan pada 13 Oktober 2022 oleh gagasan dari Persatuan Islam Tionghoa Indonesia. Sedangkan nama Cheng Hoo sendiri berasal dari bentuk penghormatan pada ulama yang berasal dari Tiongkok yang pernah mengunjungi tanah bakal masjid tersebut yang bernama Cheng Hoo, persisnya seorang Laksamana asal Tiongkok yang beragama Islam. Abad ke-15 pada masa Dinasti Ming (1368-1643) orang-orang Tionghoa dari Yunnan melakukan ekspedisi Asia Tenggara termasuk ke Indonesia dengan mengemban beberapa misi, di antaranya berdagang, menjalin persahabatan, serta menyebarkan ajaran agama Islam di berbagai wilayah di Nusantara, terutama di pulau Jawa.
Tak heran, banyak masjid didirikan untuk mengenang jasa laksamana asal Tiongkok ini. Beberapa masjid Cheng Ho dibangun dengan arsitektur khas Negeri Tirai Bambu, menjadi akulturasi yang sangat apik dengan arsitektur khas Islam. Kompleks masjid ini dibangun di atas tanah seluas 3.070 m2. Masjid ini dibedakan oleh perpaduan gaya Cina dan Arab. Masjid Niujie di Beijing yang dibangun pada tahun 996 M menjadi model desain masjid yang terlihat pada atap utama dan mahkota masjid. Bagian masjid lainnya dibangun dengan memadukan arsitektur Jawa dan Arab. Abdul Aziz adalah orang yang mendesain Masjid Cheng Ho di Surabaya.
Berbagai bagian masjid masing-masing memiliki filosofi atau makna tersendiri. Bangunan utama Masjid Cheng Ho yang berukuran 11 meter kali 9 meter mengikuti Ka’bah dengan panjang 11 meter dan lebar 11 meter saat Nabi Ibrahim AS membangunnya. Sedangkan ukuran 9 meter diambil dari jumlah wali (Wali Songo) yang mengajarkan agama Islam di pulau Jawa. Pintu masuk masjid yang mirip pagoda menampilkan relief lilin naga dan singa dengan kata Arab “Allah” yang diukir di atasnya. Sebuah bedug yang sering digunakan untuk menandakan awal salat dapat ditemukan di sisi kiri bangunan. Bangunan berlantai tiga ini memiliki pengaruh Hindu di bagian atasnya. Bentuknya segi delapan dan terlihat seperti pagoda. Dalam keyakinan Tionghoa, angka 8 menandakan ‘Gemuk’ atau karma. Lima anak tangga yang membentuk serambi masjid melambangkan lima rukun Islam. Sementara itu, enam tahapan dalam masjid membahas Pokok-Pokok Keyakinan. Masjid Cheng Hoo dapat menampung total 1000 jamaah. Menurut Ustadz Haryono Ong, adapun kegiatan rutin di Masjid Muhammad Cheng Hoo ini adalah : Sholat 5 waktu, Taman belajar Quran setiap hari rabu (dibuka untuk umum), , sholat Jumat, kajian rutin jumat, makanan berbagai menu setelah sholat Jumat dengan hanya membayar 2000, dan lain sebagainya.


